PPT dari Tugas Rangkuman Jurnal Ketiga

Arsitektur komunikasi untuk pembaharuan dokumentasi pabrik otomatis

(Communication architecture for automatic plant documentation update)s)

MAU NGESUB TAPI LAGI TAHUN BARU BRO, EH MASIH AJA BIKIN PPT BUAT TUGAS

Arsitektur komunikasi untuk pembaharuan dokumentasi pabrik otomatis
(Communication architecture for automatic plant documentation updates)


Pendahuluan
Setelah operasi awal mesin lalu teknis Dokumentasinya dan karena waktu operasi yang lama, pada tertentu dimana titik dalam siklus hidup tidak lagi topikal. Oleh karena itu wajib untuk menambahkan pembaharuan dokumentasi teknis untuk mesin yang dikirimkan. Makalah ini memperkenalkan sebuah hirarki konsep untuk memperbarui mesin virtual atau representasi tanaman sehingga komponen dapat ditambahkan dan dihapus di Cyber Physical System (CPS) tanpa kehilangan topikalitas untuk dokumentasi mesin. Maka dari it, artikel ini memperkenalkan skenario aplikasi untuk perubahan obor las untuk menjelaskan arsitektur umum.
                Dokumentasi teknis terkini sangat penting untuk dilakukan, sesuai dengan pedoman mesin tahun 2006/42 / EG. Dokumentasi teknis mencakup dokumen terdri dari produsen mesin dan pabrik di samping deklarasi tersebut yang sesuai. Dokumen-dokumen ini menjadi dasar bagi tempatkan mesin atau pabrik di pasar dan ke dalam operasi. Rincian penting untuk dokumentasi adalah informasi tentang konstruksi, desain dan fungsi. Bagian dari dokumentasi teknis ini akan dibagi menjadi internal dan eksternal

Metode dan Pendekatan: 

a.       Penyediaan dokumentasi teknis
Relevansi untuk membuat dokumentasi untuk mesin miliki meningkat secara signifikan di tahun-tahun terakhir. Istilah teknis dokumentasi didefinisikan disini sebagai dokumentasi internal (daftar saham), bukti fitur produk (penilaian risiko e) dan dokumentasi eksternal (bagian suku cadang katalog) . Dalam konteks industri, dokumentasi teknisadalah topik yang penting Tiga persyaratan utama dapat diturunkan untuk penyediaan dokumentasi teknis:
• seluruh dokumentasi dan transparansi proses
• Keutuhan seluruh dokumentasi mesin
• penyediaan dokumentasi teknis berbasis konteks
prinsip fungsional, prosedur perawatan, rekayasa gambar, diagram rangkaian, dll. Ini legal
kewajiban dan kebutuhan untuk membawa mesin ke dalam operasi di Eropa. Dalam konteks virtual ini menyiratkan bahwa setiap komponen mesin harus sepenuhnya dijelaskan,
terlalu. Persyaratan lain yang diperlukan, juga berasal dari pedoman mesin, adalah kebutuhan akan pembaruan terus-menerus. Konfigurasi saat ini harus dijelaskan untuk mesin
sehingga dokumentasi dapat up to date.

b.       Basis data untuk dokumentasi teknis
Format pertukaran berbasis XML AutomationML  akan digunakan untuk menjelaskan komponen mesin di antara mereka dan mengaturnya secara hierarkis sebagai selesai benda. Dalam standar ini, integrasi pertama konsep untuk dokumentasi teknis disebutkan di dan digunakan dalam proyek CSC. Sebuah sistem file digunakan dalam Konteks ini sebagai lapisan ketekunan karena adanya pertukaran yang digunakan format AutomationML Untuk mewujudkan ilmu Dasar, mesin proses khusus diimplementasikan sehingga Objek ketekunan akan berada di memori utama. Mesin ini berisi logika untuk menangani spesifikasi yang lengkap dari sebuah mesin atau untuk menambah dan menghapus bagian hirarki dari deskripsi.

c.       Arsitektur perangkat lunak
Dalam rekayasa perangkat lunak, ada banyak arsitektur yang berbeda,  arsitektur berorientasi layanan (SOA) atau event-driven architecture (EDA). SOA berfokus pada entitas berorientasi pada teknologi halus dan bersifat businesscentric dilihat dan menawarkan portofolio layanan. Ini menggunakan konvensional mekanisme permintaan / balasan. [9] EDA menggunakan sebuah pendekatan event-centric Perilaku seperti itu dipicu peristiwa adalah sebuah proses untuk sebuah sistem setelah datangnya sebuah event, diproduksi oleh seorang sumber [10]. Proses komunikasi sudah selesai lebih dari broker dengan mekanisme penerbitan dan berlangganan (lihat gambar). Broker menawarkan aturan pemrosesan untuk didefinisikan peristiwa atau pola acara. Setiap CPS di dalam Platform CSC dapat berlangganan (nomor 1 pada gambar) sampai seperti itu aturan. Komponen CPS dapat mempublikasikan acara (nomor 2), a broker menerima kejadian ini dan jika broker menemukan yang sesuai Aturan pengolahannya menginformasikan semua komponen CPS yang tertunda (Nomor 3). Dengan kontrol proses ini, integrasi yang fleksibel komponen dimungkinkan karena peserta tidak perlu saling mengenal. Selain fleksibilitas, Pendekatan berbasis event menyediakan teknologi yang lain persyaratan ketahanan dan skalabilitas. Dari perspektif proses bisnis, permintaan akan arus, perilaku real-time, transparansi dan efisiensi Keputusan profesional bisa dipuaskan




d.       Hirarki master-slave
Konsep komunikasi berikut membangun arusrepresentasi virtual dengan menggunakan teknologi yang telah ditentukandan solusi. Karena pemetaan di AutomationML hirarki, adalah mungkin untuk menjelaskan .Teknologi pengelasan terlepas dari robot. Yang maya mesin tersegmentasi menjadi bagian hirarki yang berbeda,Skenario aplikasi Cloos (ditunjukkan pada gambar 1) bisa jadidipartisi menjadi bagian teknologi robot dan pengelasan bagian teknologi, lihat gambar 5. Representasi di bawah Garis tidak terhubung dan harus diilustrasikan, bahwa pengelasannya obor bisa diganti dengan mengganti las MAG Misalnya dengan obor las TIG. Ini adalah logis Konsekuensinya dan perlu karena bisa dibayangkan penggunaannya robot industri di bidang lain, . untuk memilih dan tempat tugas Setiap CSC-CPS memiliki representasi virtual yang didefinisikanyang sesuai dengan bagian fisik, .itu Misalnya sebuah obor MAG


e.       Cyber System Connector arsitektur
Cyber System Connector (CSC) memiliki tujuan untuk mendukung dokumentasi teknis proses melalui representasi virtual. Ide adalah bahwa komponen yang berbeda dalam CSC mengetahui segalanya tentang diri mereka sendiri dan antarmuka logis dan fisik ke komponen lainnya Untuk mewujudkan perspektif baru untuk dokumentasi teknis, asumsi tertentu harus diimplementasikan. Dalam subbagian berikut, aspeknya untuk Konektor Sistem Cyber akan dijelaskan secara singkat. Tujuan global untuk arsitektur CSC adalah untuk memberikan kerangka kerja untuk implementasi suatu arus
tanaman cyber-fisik atau representasi mesin, dengan fokuspada dokumentasi teknis Bagian selanjutnya menjelaskan keseluruhan konsep arsitektur CSC.

Hasil dan Pembahasan
Mari kita asumsikan bahwa dalam pengelasan CLOOS manualnnsumber (tanpa robot) master adalah mesin las,nsatu budak adalah obor MAG dan budak lainnyancatu daya Maka mudah untuk membangun representasi virtualnUntuk mesin ini karena bagian slavenyandiurutkan dalam hierarki mesin. Dengan ini logisnModel adalah mungkin untuk membangun contoh sederhana. Sekarang mari kitanasumsikan bahwa mesin las akan diimplementasikan padansebuah robot. Dalam hal ini mesin las master sebelumnyanberoperasi sebagai budak mesin robot master baru, tapinitu membuat fungsionalitas utama untuk budak yang mendasarinyan(obor dan power supply). Komponen seperti itu disebut, Dalam tulisan ini, slave / master. Sekarang bisa dilihat bahwanPertama kali diperkenalkan master tunggal tidak cukup. Ini mengarahnUntuk pendekatan baru, di sini disebut hirarki master-slavenHal ini diperlukan karena memenuhi persyaratan untuk anplatform fleksibel dan dapat diperluas. Sebagai ilustrasi itu bisandibayangkan bahwa catu daya dipisahkan darinRobot menggunakannya untuk pengelasan langsung sumber listrik (powernpasokan dengan obor las terpadu). Lalu kekuatannyanPasokan bisa menjadi master pertama dalam representasi baru.nitu berarti setiap komponen CSC-CPS harus memilikinKemungkinan untuk beroperasi sebagai master. Selanjutnya,nmaster didefinisikan oleh representasi AutomationML sendiri.nPeran operasi (master, slave atau slave / master)nuntuk komponen tergantung pada representasi virtualndibangun di AutomationML. Dalam hirarki, sebuah instancendapat mendukung peran yang berbeda (seperti yang ditentukan oleh Peran Alat. Konsep perangkat lunak normal biasanya ditentukan oleh tiga lapisan Lapisan database, pengendali logis dan antarmuka pengguna grafis. Arsitektur CSC menggunakan lapisan ini juga, divisualisasikan pada gambar 3. Pengguna interaksi adalah lapisan atas dan menyediakan mesin manusia antarmuka. Lapisan ini menawarkan visualisasi grafis. Lapisan yang mendasari dihubungkan oleh XML dan menyediakan pengendali logis untuk menafsirkan informasi atau mengekspor dokumentasi teknis berbasis konteks Data yang dibutuhkan diminta melalui lapisan representasi virtual dan 368 Kay Lenkenhoff dkk. / Procedia CIRP 44 (2016) 365 – 370 dikirim melalui pertukaran AutomationML yang dijelaskan format. Untuk memperpanjang representasi virtual dengan mesinnegara bagian atau sensor lainnya pada tingkat yang sangat rendah, Platform Terbuka Antarmuka Communications Unified Architecture (OPC UA) disiapkan1. Untuk pengembangan sebuah eventdriven arsitektur, kita mendefinisikan kejadian pengguna, informasi acara, acara virtual dan acara sensor sebagai acara yang berbeda.

Kesimpulan

Makalah ini telah menyarankan sebuah pendekatan baru untuk menjamin representasi up-to-date virtual untuk mesin atau tanaman di bawah pertimbangan dokumentasi teknis modular. Untuk mewujudkan konsep software, master-slave hirarki dalam kombinasi dengan konsep kerangka EDA yang telah dipersiapkan. Dengan format interchange yang dibahas AutomationML, seluruh konsep menggunakan standar dalam konteks industri. Dalam konteks CPS dan CPPS, konsep platform adalah solusi yang sangat potensial. Salah satu aspek yang fokus langsung adalah dukungan untuk up-to-date dokumentasi teknis dan proses lainnya seperti perawatan mesin. Terdiri dari standar dan solusi free-ware, konsep platform bisa berfungsi sebagai arsitektur berbiaya rendah untuk meningkatkan fasilitas manufaktur dan komponen untuk CPS. Karena itu, sangat menarik terutama untuk usaha kecil dan menengah dari mesin dan teknik pabrik. Selanjutnya, dengan representasi mesin dan integrasi yang berbeda Sensor, adalah mungkin untuk menawarkan dukungan cerdas, alat itu berubah Seorang mekanik bisa mendapatkan proses otomatis step guide karena setelah proses selesai, sensor Perubahan bisa dideteksi secara otomatis. Oleh karena itu, Pendekatan berbasis event memungkinkan untuk beroperasi sebagai a logika bisnis (e. g keputusan sistem pendukung). Sementara aplikasi perangkat lunak yang disajikan sudah memenuhi persyaratan dari aplikasi industri, biaya tambahan Komponen perangkat keras yang memenuhi persyaratan tersebut adalah masih tinggi Dalam proyek tersebut, mikro pengendali yang menguntungkan  dan sedang digunakan.  


Sumber jurnal Internasional : http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S2212827116003826?via%3Dihub
semua penulis serta rekan rekan yang telah membantu beliau dalam jurnal ini sudah bisa di lihat si sumber yang telah saya berikan diatas

maaf jika kata-katanya di sesuai di translate dengan google translate  

NEKOPARA KAPAN NGESUB NYA ? SABAR MAS INI LAGI OTW TAPI NUGAS DULU YAH


PPT dari Tugas Rangkuman Jurnal Kedua
APLIKASI ASAM STEARAT SEBAGAI COMPATIBILIZER PADA FILM KOMPOSIT TEPUNG UBI KAYU-LINEAR LOW DENSITY POLYETHYLENE

Aduh sorry guys, ini tugas kuliah lagi, bukan php nih


Tabel Perbandingan :


No
Faktor Pembeda
Jurnal 1
Jurnal 2
1
Judul
ANALISIS KEPUASAN PELANGGAN DENGAN
IMPORTANCE PERFORMANCE ANALYSIS
DI SBU LABORATORY CIBITNG PT SUCOFINDO (PERSERO)

APLIKASI ASAM STEARAT SEBAGAI COMPATIBILIZER PADA FILM KOMPOSIT TEPUNG UBI KAYU-LINEAR LOW DENSITY POLYETHYLENE
2
Objek Penelitian
Menganalisa kepuasan pelanggan di PT Sucofindo (Persero)
Pencampuran  tepung singkong termoplastis (TCL) dengan linear low density polyethylene (LLDPE) dihadapkan pada perbedaan polaritas karena TCL merupakan bahan yang bersifat polar sementara LLDPE
3
Permasalahan
Terjadinya ketidakpuasan pelanggan mengenai harga pada tahun 2012 sehingga pelanggan menggunakan jasa perusahaan lain.
plastik menimbulkan pencemaran serta kerusakan lingkungan karena sulit terdegradasi secara alami
4
Tujuan
Mengalisis gap yang dilakukan terhadap campuran dari variabel kualitas pelayanan dan bauran pemasaran yang meliputi variabel reliability (kehandalan), responsiveness (daya tanggap), assurance (jaminan), emphaty (empati), tangible (bukti fisik), product quality (kualitas produk), dan price (harga).
mendapatkan film komposit ubi kayu termoplastik-LLDPE dan mengetahui sifat mekanik film komposit ubi kayu termoplastik-LLDPE yang dihasilkan.
5
Metode
IMPORTANCE PERFORMANCE ANALYSIS

a.       proses plastisisasi
b.       melt flow index

Siapa yang bilang mau update ? orang cuman tabel perbandingan

APLIKASI ASAM STEARAT SEBAGAI COMPATIBILIZER PADA FILM KOMPOSIT TEPUNG UBI KAYU-LINEAR LOW DENSITY POLYETHYLENE

PEDAHULUAN
Pencampuran  tepung singkong termoplastis (TCL) dengan linear low density polyethylene (LLDPE) dihadapkan pada perbedaan polaritas karena TCL merupakan bahan yang bersifat polar sementara LLDPE merupakan bahan yang bersifatnonpolar. Untuk mendapatkan campuran atau komposit yang baik, diperlukan bahan aditif, yaitu bahan kompatibiliser yang digunakan untuk mengubah polaritas komponen, di antaranya adalah asam stearat yang dapatmemberikan gugus polar pada molekulLLDPE. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan asam stearat sebagai kompatibiliser padafilm komposit TCL-LLDPE. TCL diproduksi dengan menambahkan 30 dan 40% (b / b) gliserin ke tepung singkong (CL). Film komposit dibuat dengan rasio CL:LLDPE sebesar 2:8 dan 3:7. Dosis asam stearat yang digunakan adalah 5 dan 7% (b/b) dari LLDPE.Parameter yang dianalisis pada penelitian ini adalah pengaruh rasio CL:LLDPE, dosis gliserin, dan dosis asam stearat terhadap melt flow index, specific gravity, sifat mekanik, kekuatan seal, dan kejernihan film yang dihasilkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa melt flow indexyang lebih tinggi dihasilkanoleh komposit yang menggunakan dosis asam stearat yang lebih tinggi. Specific gravity yang lebih tinggi dihasilkan oleh komposit yang menggunakan CL lebih tinggi.Rasio CL yang lebih tinggi menghasilkan film komposit dengan sifat mekanik dan kekuatan seal yang lebih rendah. Film komposit terbaik dihasilkan dari komposisi CL:LLDPE sebesar 2:8; 40% gliserin, dan 5% asam stearat. Sifat mekanisdari film komposit tersebut adalah kekuatan tarik arah MD 5,62 MPa dan elongasi 594,27%.
            Plastik merupakan bahan kemasan yang paling banyak digunakan saat ini. Hal ini disebabkan plastik mempunyai beberapa keunggulan yaitu ketahanan impact yang jauh lebih baik dibandingkan kemasan gelas, bobot ringan, harga murah, dan mudah dibentuk. Di balik keunggulannya, terdapat dua permasalahan penting dalam penggunaan
kemasan plastik sintetis. Pertama, plastik menimbulkan pencemaran serta kerusakan lingkungan karena sulit terdegradasi secara alami. Kedua, ketersediaan bahan baku plastik berupa minyak dan gas bumi semakin menipis. Untuk mengurangi permasalahan ini dikembangkan biodegradable polymer. Salah satu contoh bahan yang sering digunakan yaitu pati. Pati merupakan polimer alami yang paling menjanjikan bagi pengembangan bahan-bahan biodegradable karena pati memiliki kombinasi atribut seperti harga murah, ketersediaan berlimpah, dan dapat diperbarui. Salah satu sumber pati yaitu ubi kayu. Tepung ubi kayu seperti halnya pati, mempunyai kemampuan menyerap air yang tinggi, rapuh, dan sulit diolah sehingga perlu penambahan plasticizer agar tepung bersifat termoplastis sehingga mudah dibentuk. Tepung ubi kayu termoplastik bersifat hidrofilik sedangkan LLDPE bersifat hidrofobik. Pencampuran tepung ubi kayu termoplastik dan LLDPE menimbulkan kendala yaitu sulit untuk dicampur dengan baik. Pada pencampuran kedua bahan ini diperlukan kompatibiliser. Pada penelitian ini digunakan compatibilizer berupa asam stearat. Asam stearate selain memiliki kemampuan sebagai kompatibiliser juga memiliki sifat sebagai dispersant dan pelumas.  Pada pembuatan barang-barang plastik sintetis, asam stearat sering digunakan sebagai dispersant agar bahan aditif dapat tercampur merata di dalam matriks plastik dan memudahkan barang jadi dikeluarkan dari cetakan.  Harapan dari penggunaan asam stearat selain memberikan efek kompatibilisasi juga memberikan efek dispersant dan lubrikasi.

METODE PENELITIAN
1.  Karakterisasi Tepung Ubi Kayu
    Bahan berupa tepung ubi kayu berukuran 100 mesh dilakukan analisis proksimat untuk mengetahui karakteristiknya. Karakterisasi tepung ubi kayu meliputi analisis kadar air, kadar abu, dan kadar lemak, kadar protein dan kadar serat kasar, kadar pati dan kadar amilosa (AOAC 1995, AOAC, 1999).



2. Populasi dan Sampel
    Pembuatan pelet komposit dimulai dengan proses plastisisasi tepung ubi kayu menggunakan gliserol dan air. Gliserol dicampurkan pada tepung dengan dosis 30 dan 40% dari bobot tepung ubi kayu, sementara air ditambahkan sampai kadar air campuran mencapai 25%. Plastisisasi dilakukan menggunakan kneading and mixing machine selama 15 menit pada suhu 90oC dengan kecepatan putar 52 rpm. Gumpalan hasil pencampuran kemudian dihancurkan menggunakan crusher sehingga diperoleh pelet berukuran 6 - 8 mm. Tepung ubi kayu termoplastik dicampur dengan resin LLDPE dan asam stearat untuk memperoleh pelet komposit. Rasio tepung ubi kayu:resin LLDPE yang digunakan adalah 2:8 dan 3:7. Dosis asam stearat yang digunakan adalah 5 dan 7% dari bobot resin LLDPE. Resin LLDPE yang digunakan adalah campuran 1:1 LLDPE UF1810 dan LLDPE UI2420 untuk mendapatkan MFI resin sekitar 10 g/10 menit. Komponding dilakukan pada suhu 190oC dengan kecepatan 52 rpm sampai diperoleh kompon yang rata. Gumpalan kompon yang dihasilkan dihancurkan sampai berukuran 6 - 8 mm. Pelet komposit yang diperoleh dianalisis kadar airnya. Pelet komposit ini selanjutnya dikeringkan menggunakan hopper dryer pada suhu 110oC hingga mencapai kadar air kurang dari 0,3%. Setelah dikeringkan, pelet komposit dianalisis indeks laju alirnya (ASTM D1238, 1991) dan bobot jenisnya.
3. Pembuatan Film Plastik Komposit
    Pelet komposit yang sudah dikeringkan diproses dengan mesin blowing film dengan kecepatan screw 800 rpm dan suhu 150oC di keempat zona ekstruder  sehingga dihasilkan tabung film. Film yang dihasilkan dianalisis sifat mekanik (kuat tarik dan panjang elongasi) lembaran film (ASTM D-882, 1991), kekuatan seal, FTIR, SEM (ASTM E-2015, 1991), dan warna (yellowness dan opacity (ASTM E-313, 1991)).



4. Rancangan Percobaan
Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap faktorial dengan 2 kali ulangan. Faktor yang digunakan yaitu rasio tepung ubi kayu terhadap LLDPE yang terdiri dari 2 taraf (2:8 dan 3:7), dosis gliserol yaitu (30 dan 40% bobot tepung ubi kayu), dan dosis asam stearat yaitu (5 dan 7% bobot LLDPE)


HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Karakteristik Tepung Ubi Kayu
Karakterisasi tepung ubi kayu dilakukan untuk mengetahui kondisi awal tepung sebelum proses pencampuran dengan gliserol dan air pada proses plastisisasi tepung. Karakterisasi tepung ubi kayu dilakukan agar mengetahui pengaruhnya terhadap proses pembuatan plastik komposit dan plastik komposit yang dihasilkan.  Hasil karakterisasi tepung ubi kayu ditampilkan pada Tabel 1.
Paramereter
Nilai
Kadar Air (%, b/b)
15,87
Kadar abu (% b/b)
1,48
Kadar protein (%)
2,83
Kadar serat kasar (%)
0,23
Kadar pati (%)
78,53
Rasio amilosa (%)
27,07
Ukuran (% lolos ayakan 100 mesh)
100
Tabel 1. Karakteristik tepung ubi kayu
                                                           
       Rendahnya kadar serat kasar tepung ubi kayu disebabkan adanya perlakuan penggilingan dan pengayakan sampai lolos ayakan 100 mesh. Serat kasar tepung ubi kayu sulit dihaluskan sehingga seratnya tertahan di ayakan. Penurunan kadar serat kasar pada proses penggilingan sebenarnya memberikan pengaruh negatif karena serat kasar dapat memberikan kekuatan mekanis namun jika tidak dilakukan penggilingan maka ukuran tepung ubi kayu yang terlalu besar juga akan menyebabkan sulitnya pencampuran karena perlu waktu lebih lama untuk melelehkan tepung ubi kayu dan akibatnya selain kemungkinan terjadinya pencoklatan juga terjadi pemutusan ikatan glikosida pati. Kandungan amilosa tepung ubi kayu relatif tinggi sehingga diharapkan dapat menghasilkan film komposit yang lebih baik karena kecenderungan amilosa membentuk film yang lebih kuat dibandingkan dengan amilopektin. Untuk membentuk film dan gel yang kuat harus digunakan pati dengan kandungan amilosa yang tinggi. Struktur amilosa sangat stabil dan dapat membentuk film yang lebih padat dan lebih kuat dibandingkan dengan film amilopektin
2.    Karakter Pelet Komposit
Kadar air pelet komposit yang dihasilkan yaitu 1,62 – 2,08%. Kadar air pelet komposit berpengaruh pada sifat film plastik komposit yang dihasilkan. Pada saat proses film blowing, jika kadar air pelet komposit terlalu tinggi, air akan terjebak bersama pelet komposit yang terkena panas di dalam mesin blowing film yang tidak mempunyai ventilasi. Saat film keluar dari die, air yang menempel pada film akan menguap karena panas dan menyebabkan terjadinya lubang-lubang pada film yang dihasilkan.  Data kadar air dan karakter sifik komposit disajikan pada Tabel 2.  Kadar air komposit tidak dipengaruhi oleh ketiga faktor yang dicoba, yaitu rasio tepung ubi kayu terhadap resin LLDPE, dosis plastisiser, dan dosis kompatibiliser
Dari data yang diperoleh, peningkatan nilai MFI berbanding lurus dengan peningkatan persentase asam sterat yang digunakan. Hasil ini serupa dengan penelitian yang dilakukan Waryat et al. (2013), bahwa MFI cenderung meningkat dengan peningkatan dosis kompatibiliser, sementara Kim et al. (2006) menyatakan campuran LLDPE dan filler yang dilapisi asam stearat menghasilkan lelehan dengan viskositas yang lebih rendah dibandingkan LLDPE dan filler tanpa dilapisi asam stearat. Rasio tepung ubi kayu terplastisisasi terhadap resin LLDPE yang digunakan berpengaruh nyata terhadap bobot jenis pelet komposit yang dihasilkan.  Perbedaan bobot jenis komposit ditentukan oleh banyaknya tepung ubi kayu di dalam komposit.  Semakin banyak tepung ubi kayu maka bobot jenis komposit akan semakin tinggi.  Hal ini disebabkan bobot jenis tepung ubi kayu lebih tinggi dari LLDPE.
3.    Morfologi Film Komposit  
Morfologi permukaan film komposit tepung ubi kayu-LLDPE dengan rasio 3:7 dan gliserol 30 persen ditampilkan pada Gambar 1.  Pada Gambar 1 tampak bahwa tepung ubi kayu termoplastik tersebar merata pada matriks LLDPE hal tersebut menunjukkan bahwa asam stearat pada LLDPE memiliki kemampuan sebagai kompatibiliser pada pencampuran LLDPE dengan tepung ubi kayu
termoplastik.  Sebagai kompatibiliser, asam stearat dapat meningkatkan gaya adhesi antara LLDPE dengan tepung ubi kayu termoplastik.  Hal ini sesuai dengan penelitian Puspadass et al. (2010) yang menunjukkan bahwa penggunaan kompatibiliser (LLDPE dengan ikatan cabang maleat anhydride) pada campuran pati jagung dengan LLDPE dapat memperbaiki gaya adhesi dan interaksi antara pati jagung dengan LLDPE. Selain sebagai kompatibiliser, asam stearat juga berfungsi sebagai dispersant yang membantu penyebaran tepung ubi kayu termoplastik ke dalam matriks LLDPE (Piringer dan Banner, 2008) sehingga dapat diperoleh komposit yang lebih homogen.
4.    Sifat Mekanik Film Plastik Komposit
Kuat tarik merupakan ukuran besarnya beban atau gaya yang dapat ditahan sebelum suatu sampel rusak atau putus, sementara elongasi adalah perubahan panjang contoh yang dihasilkan oleh ukuran tertentu panjang spesimen akibat gaya yang diberikan (Stevens,  2007).    Hasil analisis kuat tarik komposit disajikan pada Tabel 3. Analisis statistika menunjukkan bahwa kuat tarik film komposit hanya dipengaruhi oleh faktor
rasio tepung ubi kayu terhadap LLDPE.  Data pada Tabel 2 menunjukkan bahwa nilai kuat tarik komposit yang dihasilkan dari semua perlakuan jauh lebih rendah dari kuat tarik film LLDPE murni, yaitu 24,0-26,5 MPa pada arah sejajar mesin film blowing namun hanya sekitar setengah dari kuat tarik komposit pati termoplastik-LLDPE dengan rasio 2:8 dan 3:7 menggunakan maleic anhydride sebagai kompatibiliser yang dibuat oleh Waryat et al. (2013).

5.    Sifat Optis Film Komposit
Film komposit yang dihasilkan dianalisis sifat optisnya, yaitu yellowness dan kejernihannya. Film komposit yang dihasilkan dari semua perlakuan memiliki derajat kuning yang tidak berbeda, semua film yang dihasilkan berwarna kekuningan.  Warna kekuningan ini disebabkan terjadinya pencoklatan bahan yang digunakan terutama tepung ubi kayu yang banyak mengandung pati, sedikit serat dan protein, serta gliserol yang ditambahkan sebagai plastisiser.  Perlakuan panas selama komponding dan blowing menyebabkan terjadinya pelepasan molekul air dari struktur pati dan serat membentuk karamel (proses karamelisasi) yang berwarna coklat. Semakin banyak kehilangan air maka akan dihasilkan warna yang lebih gelap sampai akhirnya menjadi hitam jika semua air terlepas sehingga pati dan serat menjadi arang. Penyebab pencoklatan yang kedua adalah terjadinya reaksi Maillard antara gugus alkohol pada pati, serat dan gliserol dengan gugus amina yang terdapat pada protein pati ubi kayu.  Tepung ubi kayu yang digunakan mengandung 2,83% protein dan lebih dari 78,53 pati.

KESIMPULAN
Peningkatan komposisi tepung ubi kayu termoplastis dapat menurunkan sifat mekanik film plastik komposit yang dihasilkan. Sifat mekanik terbaik film komposit dihasilkan pada formulasi dengan rasio tepung ubi kayu terplastisisasi dan resin LLDPE sebesar 2:8 menggunakan 40% gliserol dan 5% asam stearat. Penggunaan asam stearat sebagai kompatibiliser dengan konsentrasi 7% memberikan melt flow index pelet komposit yang lebih tinggi dibandingkan asam stearat 5%.  Penggunaan tepung ubi kayu terplastisisasi sebesar 30% menghasilkan bobot jenis pelet komposit yang lebih tinggi dibandingkan tepung ubi kayu terplastisisasi sebesar 20%. Penggunaan tepung ubi kayu terplastisisasi sebesar 20% memberikan kekuatan seal yang lebih baik dibandingkan tepung ubi kayu terplastisisasi sebesar 30%.  Warna film komposit tidak dipengaruhi rasio tepung ubi kayu:LLDPE, dosis gliserol, dan dosis asam stearat.  Film komposit yang dihasilkan bersifat buram dengan warna kecoklatan.

Terimakasih kepada penulis jurnal yaitu:
Sugiarto1), Titi Candra Sunarti1), Ani Suryani1), Sutrisno2), Indah Yuliasih1)
1)Departemen Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian IPB Kampus IPB Dramaga, P.O.Box, 220, Bogor Email: paksugiarto@yahoo.com 2)Departemen Teknik Mesin dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, IPB



Bukan Rilisan Anime Lagi, Tapi tugas kuliah minggu ke dua


PPT dari Tugas Rangkuman Jurnal
ANALISIS KEPUASAN PELANGGAN DENGAN IMPORTANCE PERFORMANCE ANALYSIS DI SBU LABORATORY CIBITUNG PT SUCOFINDO (PERSERO) 

Bukan Rilisan Anime NgepetSub, tapi tugas kuliah

ANALISIS KEPUASAN PELANGGAN DENGAN
IMPORTANCE PERFORMANCE ANALYSIS
DI SBU LABORATORY CIBITNG PT SUCOFINDO (PERSERO)


PEDAHULUAN
Perdagangan bebas AFTA-China yang sudah dimulai saat ini, memaksa pemerintah sebagai pemegang regulasi untuk senantiasa mengawasi atau menginspeksi setiap masuknya produk-produk asing ke Indonesia. Dalam hal ini pemerintah sudah cukup berperan aktif dalam menghadapi kenyataan tersebut. Dalam hal ini PT Sucofindo (Persero) adalah salah satu mitra pemerintah dalam pengawasan tersebut.
SBU Laboratory Cibitung PT Sucofindo (Persero) berdiri sejak 1997, bergerak di bidang jasa analisis, kalibrasi dan inspeksi. Seiring dengan perkembangan zaman, perusahaan yang bergerak di bidang yang sama dengan PT Sucofindo (Persero) sudah banyak bermunculan baik yang berasal dari dalam maupun luar negeri, hal tersebut patut diperhatikan karena bisa mengancam eksistensi dari PT Sucofindo (Persero). Untuk itulah perlu adanya peningkatan kepuasan pelanggan demi terciptanya iklim perusahaan yang baik. Dalam beberapa teori, kepuasan pelanggan dipengaruhi oleh beberapa hal, salah satunya adalah kualitas pelayanan dan bauran pemasaran. Dalam model penelitian Zeithaml (2000), kepuasan pelanggan dipengaruhi oleh variabel reliability (kehandalan), responsiveness (daya tanggap), assurance (jaminan), emphaty (empati), tangible (bukti fisik), product quality (kualitas produk), dan price (harga).
Berdasarkan data perusahaan 2011 mengenai kualitas pelayanan, maka dapat diketahui bahwa yang menonjol dari kualitas pelayanan tersebut hanyalah dari segi variabel tangible (bukti fisik), sementara fakta di lapangan masih ditemukannya jumlah komplain yang banyak, serta adanya salah satu divisi yang mengalami penuruanan order hingga 30%. Pada tahun 2012, yang diindikasikan adanya ketidakpuasan pelanggan mengenai harga, sehingga pelanggan tersebut beralih menggunakan jasa perusahaan lain. Dari sanalah perlu bagi perusahaan untuk meningkatkan kepuasan pelanggan tidak hanya dari kualitas pelayanan melainkan juga mengenai aplikasi bauran pemasarannya. Untuk dapat meningkatkan kepuasan pelanggan perlu pengukuran tingkat kepuasan pelanggan dengan membandingkan persepsi pelanggan dengan harapan pelanggan mengenai kinerja SBU Laboratory Cibitung PT Sucofindo (Persero). Analisis gap tersebut dilakukan terhadap campuran dari variabel kualitas pelayanan dan bauran pemasaran yang meliputi variabel reliability (kehandalan), responsiveness (daya tanggap), assurance (jaminan), emphaty (empati), tangible (bukti fisik), product quality (kualitas produk), dan price (harga). Untuk menganalisis lebih lanjut digunakan metode (Importance Performance Analysis) IPA dimana dengan menggunakan metode ini dapat melihat sejauh mana pencapaian perusahaan, serta yang perlu dipertahankan dan ditingkatkan oleh perusahaan.

METODE PENELITIAN
1.  Kepuasan Pelanggan
    Kepuasan pelanggan didefinisikan sebagai wujud perasaan konsumen setelah membandingkan dengan harapannya. Apabila kinerja perusahaan dibawah harapan konsumen maka konsumen akan kecewa dan sebaliknya sehingga dapat disimpulkan bahwa kepuasan merupakan respon dari pemenuhan kebutuhan konsumen. Adapun model kepuasan pelanggan menurut Zeithaml (2000) adalah sebagai berikut:



Gambar 1 Model Customer Satisfaction

2. Populasi dan Sampel
    Populasi menurut Sugiyono (2012) adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang diterapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Sedangkan secara umum sampel diartikan sebagai bagian dari populasi. Sampel dalam penelitian haruslah bersifat representatif/mewakili agar didapat hasil yang akurat Setelah jumlah sampel ditentukan maka instumen penelitian dibagikan sebagai sumber data, sumber data yang digunakan diantaranya yaitu:
1. Kuesioner Kuesioner merupakan sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh sejumlah informasi dari responden yang berisi laporan tentang pribadinya, atau hal lain yang diketahui. Kuesioner digunakan untuk mengumpulkan data tentang persepsi dan harapan dari konsumen SBU Laboratory Cibitung PT Sucofindo (Persero).
2. Dokumentasi Dokumentasi adalah pengumpulan data dengan cara mencatat dari dokumen yang telah dimiliki pihak perusahaan. Pengumpulan data dengan dokumentasi akan dilakukan peneliti sejak peneliti berada dilapangan. Dokumentasi tersebut antara lain lokasi, sejarah perusahaan dan perkembangannya
3. Skala Likert
Sugiyono (2012) menerangkan bahwa skala Likert digunakan untuk mengukur sikap atau pendapat seseorang atau sejumlah kelompok terhadap sebuah fenomena sosial yang dimana jawaban setiap item  instrumen mempunyai gradasi dari sangat positif sampai  sangat  negatif. Dengan skala likert variabel yang akan diukur dijabarkan menjadi indikator variabel. Kemudian indikator tersebut dijadikan titik tolak untuk menyusun item-item instrumen yang dapat berupa pernyataan atau pertanyaan. Berikut adalah skala yang dipakai pada penelitian ini: a. Tidak Setuju  b. Kurang Setuju c. Setuju d. Sangat Setuju


4. Uji Validitas
Sebuah instrumen yang akan digunakan dalam penelitian harus dapat mengukur atau mengungkapkan data dari variabel yang diteliti. Hal ini dapat diketahui dengan uji validitas untuk mengetahui valid atau tidaknya sebuah instrument.

5. Uji Reliabilitas
Reliabilitas berbicara mengenai masalah ketepatan (accuracy) alat ukur. Ketepatan ini dapat dinilai dengan analisa statistik untuk mengetahui measurement error atau salah ukur. Suatu instrumen dikatakan reliabel apabila instrumen tersebut cukup dapat dipercaya sebagai alat pengukur data.

6. Importance Performance Analysis (IPA)

 Menurut Tjiptono (2011) teknik ini dikemukakan pertama kali oleh Martilla dan James pada tahun 1977 dalam artikel mereka “ImportancePerformance Analysis” yang dipublikasikan di Journal of Marketing. Pada teknik ini, responden diminta untuk menilai tingkat kepentingan dan kinerja perusahaan, kemudian nilai ratarata tingkat kepentingan dan kinerja tersebut dianalisis pada ImportancePerformance Matrix, yang mana sumbu x mewakili persepsi sedangkan sumbu y mewakili harapan. Maka nanti akan didapat hasil berupa empat kuadran sesuai gambar berikut:
                        Gambar 2 Matriks Importance Performance Analysis
                   Adapun interpretasi dari kuadran tersebuat adalah sebagai berikut:
A. Prioritas Utama (Concentrate Here). Pada kuadaran ini terdapat faktorfaktor yang dianggap penting dan atau diharapkan konsumen akan tetapi kinerja perusahaan dinilai belum memuaskan sehingga pihak perusahaan perlu berkonsentrasi untuk mengalokasikan sumber dayanya guna meningkatkan performa yang masuk pada kuadran ini.
B. Pertahankan Prestasi (Keep Up The Good Work). Pada kuadaran ini terdapat faktorfaktor yang dianggap penting dan diharapkan sebagai faktor penunjang kepuasan konsumen sehingga perusahaan wajib untuk mempertahankan prestasi kinerja tersebut.
C. Prioritas Rendah (Low Priority) Pada kuadaran ini terdapat faktorfaktor yang dianggap mempunyai tingkat persepsi atau kinerja aktual yang rendah dan tidak terlalu penting dan atau tidak terlalu diharapkan oleh konsumen sehingga perusahaan tidak perlu memprioritaskan atau memberikan perhatian lebih pada faktor-faktor tersebut. 
D. Berlebihan (Possibly Overkill) Pada kuadaran ini terdapat faktorfaktor yang dianggap tidak terlalu penting dan tidak terlalu diharapkan oleh pelanggan sehingga perusahaan lebih baik mengalokasikan sumber daya yang terkait pada faktor tersebut kepada factor lain yang lebih memiliki tingkat prioritas lebih tinggi.


DATA DAN ANALISIS
Dari jumlah populasi yang ada yakni 4790, maka dihitung jumlah sampel yang diperlukan dengan menggunakan rumus Slovin dengan hasil akhir n sebanyak 98 Pelanggan. Secara keseluruhan skor kepuasan pelanggan tiap atribut dapat disimpulkan sebagai berikut:
Berdasarkan data yang telah di dapat, maka dapat diketahui bahwa semua atribut memiliki nilai negatif yang berarti bahwa setiap atribut tersebut belum memenuhi harapan pelanggan. Dari data tersebut maka perlu analisis lebih lanjut untuk menentukan skala prioritas dalam usaha perbaikan dari setiap atribut yang ada, adapun cara untuk menentukan skala prioritas pembenahan yang ada adalah dengan menggunakan metode Importance Performance Analysis (IPA).

ANALISIS IMPORTANCE PERFORMANCE ANALYSIS (IPA)
Pada bagian ini dibahas mengenai pemetaan dari nilai kinerja (x) dan harapan (y), dari hasil tersebut maka akan terbentuk matriks yang terdiri dari empat buah kuadran yang masing-masing kuadran menggambarkan skala prioritas dalam mengambil kebijakan baik berupa peningkatan kinerja atau mempertahankan kinerja perusahaan. Berikut adalah data sebaran kinerja dan harapan pelanggan:
Gambar 3 Diagram Kartesius Pengukuran Kepuasan Pelanggan

Dari gambar tersebut maka dapat diinterpretasikan sebagai berikut:
1.    Kuadran A
Kuadran A menunjukkan faktor atau atribut yang dianggap penting oleh pelanggan namun tidak terlaksanakan dengan baik oleh perusahaan. Variabelvariabel yang termasuk dalam kuadran ini adalah:
 (7)    Pelayanan customer service PT Sucofindo cepat
 (29)  Kisaran harga jasa analisa di PT Sucofindo murah
 (30)  Potongan harga (diskon) yang ditawarkan PT Sucofindo menarik
 (34)  Biaya jasa yang ditawarkan PT Sucofindo sesuai dengan kualitas
 (35)  Paket harga yang ditawarkan terjangkau / menarik Dengan demikian  item-item tersebut menjadi skala prioritas utama perusahaan untuk diperbaiki.
2.    Kuadran B
Kuadran B menunjukkan faktor atau atribut yang dianggap penting dan memuaskan pelanggan yang sudah dilaksanakan dengan baik oleh perusahaan. Variabel-variabel yang termasuk dalam kuadran ini adalah:
(5)  Sertifikat hasil analisa jelas / tanpa kesalahan
(8)  PT Sucofindo bersedia membantu pelanggan
(9)  PT Sucofindo mempunyai respon yang baik ketika ada permintaan pelanggan mengenai kebutuhan jasa
(11)  Sistem transaksi jasa PT Sucofindo berjalan dengan baik
(16)  Karyawan PT Sucofindo mengutamakan kepentingan kepentingan pelanggan
(20)  Fasilitas gedung PT Sucofindo rapi / bersih
(21)  Karyawan PT Sucofindo berpenampilan rapi dan professional
(22) PT Sucofindo (Persero) mempunyai ruang tunggu yang nyaman
(23)  Jasa analisa di PT Sucofindo bervariasi
(24)  Hasil analisa PT Sucofindo akurat
(26)  Layanan jasa PT Sucofindo tersebar di Indonesia
(27)  Penggantian sertifikat hasil analisa ketika ada kesalahan Dengan demikian item-item tersebut perlu dipertahankan kinerjanya oleh pihak perusahaan.  
3. Kuadran C
Kuadran C menunjukkan faktor yang dianggap kurang penting oleh   pelanggan dan tidak terlaksanakan dengan baik oleh perusahaan. Variabel-variabel yang termasuk dalam kuadran ini adalah:
(1)  PT Sucofindo menyediakan jasa sesuai yang dijanjikan
(4)  PT Sucofindo menyampaikan jasa sesuai deadline / waktu yang dijanjikan
(6) Karyawan PT Sucofindo menyampaikan kepastian watu deadline /  penyampaian jasa
(10)  Karyawan PT Sucofindo menumbuhkan rasa percaya para pelanggan
(14) Karyawan PT Sucofindo memberi perhatian individual kepada para   pelanggan
(28)  PT Sucofindo bersedia memberikan saran / masukan terhadap hasil Analisa
(31)  Ada timbal balik yang positif setelah menggunakan jasa PT Sucofindo
(33)  Biaya jasa analisa di PT Sucofindo terjangkau Dengan demikian item-item diatas dapat diabaikan/mempunyai skala prioritas pembenahan bagi perusahaan.

4. Kuadran D
Kuadran D menunjukkan faktor atau atribut yang dianggap kurang penting oleh perusahaan namun dilaksanakan dengan berlebihan oleh perusahaan. Variabel-variabel yang termasuk dalam kuadran ini adalah:
(2)  Karyawan PT Sucofindo menyediakan jasa yang dapat menangani masalah   pelanggan
(3)  Karyawan PT Sucofindo menyampaikan jasa secara benar sejak pertama kali
(12)  Karyawan PT Sucofindo bersikap sopan
(13)  Karyawan PT Sucofindo mampu menjawab pertanyaan pelanggan seputar jasa yang ditawarkan
(15) Karyawan PT Sucofindo memperlakukan pelanggan dengan penuh perhatian
(17)  Karyawan PT Sucofindo memahami kebutuhan pelanggan
(18)  PT Sucofindo mempunyai waktu beroperasi yang baik
(19)  Peralatan yang digunakan PT Sucofindo modern
(25)  Jasa PT Sucofindo ternama / populer
(32)  Cara pembayaran jasa PT Sucofindo fleksibel Dengan demikian item-item tersebut berlebihan dilaksanakan oleh perusahaan, untuk itu lebih baik pihak perusahaan mengalokasikan sumber dayanya untuk prioritas utama terlebih dahulu.

KESIMPULAN
 Berdasarkan hasil perhitungan skor kepuasan pelanggan yang telah dilakukan yang meliputi variabel reliability, responsiveness, assurance, empathy, tangible, product quality, dan price dapat diketahui tiga item terbaik yaitu: Karyawan PT Sucofindo berpenampilan rapi dan professional, Fasilitas gedung PT Sucofindo rapi / bersih, dan Karyawan PT Sucofindo melayani dengan baik Dengan analisis Importance Performance Analysis (IPA) maka dapat diketahui masih terdapat 13 hal yang harus ditingkatkan kedepannya. Akan tetapi masih ada kesalahan yang disebabkan oleh pelanggan misalnya keterlambatan pengiriman sampel, keterlambatan pembayaran, kesalahan pengisian identitas dsb yang menyebabkan keterhambatan pengerjaan.

Terimakasih kepada penulis jurnal yaitu:
Johan Oscar Ong, Jati Pambudi2 1) Fakultas Teknik, Jurusan Teknik Industri, President University Jl. Ki Hajar Dewantara Kota Jababeka, Cikarang, Bekasi – Indonesia 17550 2) SBU Laboratory Cibitung PT Sucofindo (Persero) Jl. Arteri Tol Cibitung No. 1 Cibitung, Bekasi – Indonesia 17 johanoscarong@gmail.com  


Bukan Update Seri Anime Musim Gugur, tapi ini Tugas Kuliah

- Copyright © NGEPETSUB - Blogger Templates - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -